perempuan, Desa, dan Kearifannya (part 2)
Setelah 14 jam perjalanan akhirnya dapat menghirup udara luar, turun
dari kereta rasanya lega sekali akhirnya akan bertemu dengan keluarga jawa di
desa. saat itu suasana masih pagi buta, ya benar saja sampai di stasiun masih
sekitar puku 04.30 WIB sangat pagi bukan? Masih petang. Akhirnya aku bergegas
untuk bilang ke ibu dan ayah untuk segera keluar mencari orang yang jemput. Rasanya
sudah tidak sabar, cepat-cepat ku keluar dan ayah ibu kutinggal di belakang
tidak ku hiraukan. Rasa gembira walaupun capek di perjalanan setalah banyak drama
di perjalanan sampai tidurpun tak nyenyak.
Mau bagaimana lagi, setelah ku tengok sekitar luar stasiun sambil
mencari yang menjemput akhirnya aku melihat sosok agneh dan ayahnya. Benar saja
yang jemput hanya 2 orang padahal kita bertiga dengan barang bawaan yang
lumayan juga. Maklum orang kota pulang kampung pasti ribet bawa banyak barang.
Langsung ku samperin si agnes, ku tabok dia samapai terkaget dan
aku tertawa terbahak-bahak.
“woyyyy..... nesss!” dengan nada nggas. Haha....
Samapai agnes kaget “astaghfirullah..... bikin kaget saja. Ketemu bukan
malah menyapa baik malah ngakegitin. Mana bapak ibuk mu? “ akhirnya pertanyaan
itu yang terlontar di mulut agnes.
Jawaban males freya “ Noh maaih di belakang, haha.... males nunggu,
lama jalannya. Nihh barang bawaan banyak pula kayak gak akan balik Jakarta lagi”
dengus freya.
“haha.... yaelah nes.... baru ketemu sudah ngeluh saja kamu. “ sambil
ketawa kecil.
“yaudah, kita tunggu. Mana barang bawaanmu biar ku bawa nanti kamu
sama ibu mu naik becak saja ya? “ ucap agnes.
“iyalah, bawaan segaban mau di bonceng pakek sepeda montor dua
orang yang kamu jemput padahal tiga orang dan ini masih bawa barang banyak
pula. “ ucap freya sambil dengan wajah gak peduli.
Akhirnya ayah dan ibunya freya sudah ketemu juga, mencari tukang
becak untuk membawa pulang mereka. Ayah freya saya bapak agnes untuk barang ada
yang di bawa di becak sama di bawa agnes, naiklah freya dan ibunya yang di
tumpanginya untuk membawa mereka ke tujuan rumah agnes.
Perjalanan di mulai, waktu subuh sudah berkumandang saat agnes
sampai di stasiun tadi. Freya sangat menikmati perjalanan, masih pagi jadi
suasana masih hening ada orang-orang yang berangkat ke pasar. Saat kurang lebih
15 menit perjalanan hampir sampai rumah freya melewati sebuah tempat yang itu
akhirnya freya melontarkan pertanyaan ke ibunya.
“bu, baru saja yang kita lewati itu apa ya bu? Kok dulu aku gak
pernah lewat sini sebelumnya?” tanya freya.
Jawab ibu “iya, biasanya kita seringnya lewat jalan yang satunya. Apa
yang kamu tanyakan?” tanya ibu freya balik.
“itu tadi, ada pohon besar tapi kok kayak sudah mati ? kenapa nggak
di tebang itu malah ada pagar yang mengelilinginya? “ suasana jadi mrending.
“ohh... itu. Kalau orang desa itu namanya punden biasa untuk acara
selamatan para leluhur, pohon yang sudah menjadi kepercayaan orang jawa yang
masih percaya adat.” Jawab ibu freya.
Freya bergidik, merinding. Melihat sekilas saja saat pagi masih
petang, seperti ada hal-hal yang masuk dalam imajinasi bayangan freya.
Saat sampai di rumah agnes, freya masih terdiam dan membayangkan. Masih
banyak pertanyaan di dalam benak freya tapi yasudahlah istirahat dulu, walaupun
sedikit ketakutan yang ada di pikiran freya.
Bersambung.........
Hah pohon besar yg dipercaya ada roh leluhur yaa?
BalasHapusJadi kebayang film India. Ada pohon yg dihiasi dengan benang warna warni, dipagar dan di letakkan sesaji.
BalasHapusMasih ada punden biasa untuk acara selamatan para leluhur, pohon yang sudah menjadi kepercayaan orang jawa yang masih percaya adat. Mau dilihat dari segi logika tapi budaya tetap masih dijunjung tinggi di beberapa daerah kita
BalasHapusPohon besar ada penunggunya ya kak
BalasHapusbaru pernah denger tentang punden aku kak
BalasHapuskak zakia asal mana kak? maklum kak saya dari desa yang masih banyak budaya leluhur yang kental.
HapusFreya belum pernah keliling desanya ya?
BalasHapus