Perempuan, Desa, dan Kearifannya (Part 7).
Setelah agnes dan freya ke ibu agnes, setelah kejadian mereka
berdua bercerita dan sudah semakin larut malam akhirnya sudah pergi tidur
semua. Tidak tahu bapak agnes pulang jam berapa semalam tidak berpikir lagi, freya
juga bisa tidur malam itu.
Saat pagi tiba selesai sarapan freya kembali duduk di ruang tamu di
susul agnes yang buntuti, tiba-tiba ibu agnes memanggil “nduk cah loro, agnes
freya ibu akan menceritakan tentang apa yang freya alami”.
Dengan cepat tanggap mereka berdua langsung menjawab “iya... bude..,
iya bu...” dengan respon ke ingin tahuannya.
Ketika itu memang kedua orang tua freya lagi tidak rumah pagi-pagi
sudah main saja katanya kerumah saudara tapi memang freyanya tidak mau ikut
soalnya ingin mengajak agnes ngaterin jalan-jalan entah mau di ajak kemana juga
tidak tahu, tetapi sebelum pergi saat masih duduk santai di ruang tamu ibu
agnes menghampiri.
Pada akhirnya ibu agnes bercerita, “bahwa kamu tahu itu punden? Yang
kata kamu nduk Freya”.
Jawab freya hanya dengan manggut-manggut saja.
Lanjut ibu agnes “jadi gini Punden itu adalah peninggalan
zaman hindu -budha zaman nenek moyang kita yang sampai sekarang masih di
lestarikan orang desa, tujuan nya apa bukan itu hal-hal negatif tapi menghormati
para leluhur yang sudah menginjakkan kakinya di desa ini. Lama kelamaan adat
itu memang berubah tapi tetap mematuhi adat yang sudah di tinggalkan, memang
konon katanya tempat itu memang banyak penunggunya kadang memang juga ada
seseorang juga menyalah gunakan ada yang mencari pesugihan lewat Pohon Besar
itu tetapi itu juga kembali kepada setiap orang masing-masing”.
Tetiba freya menyela pembicaraan “tetapi kenapa sampai freya jadi
ketakutan saat melewati tempat itu dan kepikiran pula budhe kayak ada yang
buntuti”.
Terus melanjutkan ibu agnes “jadi gini ya Nduk Freya kamu
selama ini memang tidak pernah di ajak ya sama agnes jadi tidak tahu desa ini. Mungkin
saat kamu melewati tempat itu memang merasa asing dan pikiran sudah capek kalau
menurut budhe tidak mungkin terjadi hal-hal aneh kamu nya saja yang merasa sebab
selama ini tempat itu selalu di beri sesajen untuk penunggu tempat itu. Apa mungkin
saat kamu lewat terus ucapanmu tak mengenakan bagi penunggu tempat itu? “.
Jawab freya “budhe..... kenapa malah jadi di takut-takuti.” Rengek freya/
Melanjutkan ceritanya lagi “Nduk Freya Nduk Freya.....” sambil
tertawa kecil,
Setelah itu memang tidak membahas cerita yang selama ibi terjadi ke
freya, akhirnya mereka merasa bosan jadi mereka berdua pamit ke ibu agnes untuk
pamit jalan-jalan sebab setelah pulang kemarin baru di ajak ke sawah saja.
Akhirnya mereka pamit ke ibu agnes untuk main sebentar, ibu agnes pun
mengizinkan untuk berhati-hati. Mereka berdua keluar rumah menyelakan sepeda
montor yang bonceng agnes.
Saat sudah puas dengan jalan-jalannya pun mereka pulang, saat di
perjalanan mereka berdua melewati Punden yang selama ini menjadi
ketakutan freya. Saat melewati agnes pun cuek saja tetapi tidak dengan freya
malah menepuk pundak agnes, agnes pun marah-marah.
Sepontan agnes malah berhenti, freya menjerit ketakutan.
Tanya agnes kepada freya “apa sih sebenarnya main menepuk punggung
segala”.
Jawab freya “sama menunjukkan tempat punden itu, sambil
menutup matanya”.
Agnes sontak tertawa “buka mata dulu, lihat Punden ini biasa
orang berlalu lalang dasar paranoit. Tidak pernah melihat pohon segede ini yang
sudah tidak ada daunnya di lihatnya memang aneh tapi sudah menjadi kepercayaan
dan tidak boleh di tebang jadi bagaimana kita juga harus menghormati”.
Setelah tahu freya hanya tertawa kecil dan menyunggingkan senyum.
TAMAT.
Komentar
Posting Komentar