Perempuan, Desa dan Kearifannya (part 1)
Hari ini saudara dari freya yang tinggal di Jakarta datang, mereka
yang sudah menetap lama disana bersama romobongan satu keluarga pulang ingin
menjenguk saudara yang ada di jawa. Sudah lama tidak pulang menjadikan rindu
kampung halaman yang menjadi masa kecil orang tua perempuan freya, akhirnya
pada tahun ini bisa merasakan pulang kampung setelah sekian lama banyak hal-hal
yang tidak bisa pulang kampung ke jawa.
Mereka menghubungi ku seminggu sebelumnya, mengabari bahwa keluarganya
akan pulang kampung. Percakapan ku semalam sebelum keberangkatan nya naik
kereta .
sebelumnya disini saya bernama agnes:
“nes kalau aku sudah sampai jawa jangan lupa ajak aku main ya? Biar
gak suntuk lihat hal-hal yang begini-begini saja pemandangannya di kota. Hehe”
ucap freya di chat.
Saat chat masuk langsung lah di balas “siap, mau kemana saja kalau
sudah ada di kampung? Selama ini kan nggak pernah pulang lama kalau di kampung?
Gampang lah kalau sama aku nanti bisa aku ajak jalan-jalan kemana saja semau
kamu” di kirim.
Setelah percakapan itu, freya pamit untuk naik kereta,untuk melakukan
perjalanan pulang ke kampung halaman yang sudah di bilang sebelumnya. Tepat pukul
14.00 siang menuju sore yang masih panas.
Perjalanan Jakarta ke kampung halaman kalau naik kereta di tempuh
kurang lebih 14 jam lamanya. Di perjalanan dalam kereta yang begitu lama freya sangat
menikmati perjalanan di setiap perjalanan yang penuh dengan pemandangan yang
kadang menemukan pemandangan rindang kadang bertemu orang yang lagi melakukan
kegiatan di sawah. Sangat antusias sekali saat itu sebab jarang sekali
menemukan pemandangan indah kalau tidak pas kebetulan.
Dalam perjalanan pun freya bertanya kepada ibunya sebab untuk
sekarang tujuan pulangnya adalah kekampung halaman ibunya di lahirkan ibunya
bertumbuh yang akhirnya harus ikut suami merantau ke kota.
“ibu...... di desa ibu selama ini freya belum mengerti belum coba
ceritakan sedikit dong perjalanan ibuk hidup di desa?” rengek freya saat itu.
Padahal suasana saat itu sudah hening, iya memang freya adalah anak
terakhir dari 2 bersaudara tetapi kakaknya sudah kuliah di luar kota Jakarta katanya
ingin mencari suasana baru.
Akhirnya ibuknya samar-samar menjawab “ada apa? Ingin tahu? “
sambil mengerjap kan meta yang sedari tapi tertutup sebab perjalanan masih
lama.
“ibu.... jawablah pertanyaan freya. Di kereta 14 jam masak harus
memejamkan mata mulu? Capek buuu......” sambil cemberut.
Akhirnya ibu freya meluruskan badan dan membuka mata “ apa sih nak?
Ibu dulu saat masih kecil banyak teman di kampung kalau pulang sekoalah kadang
gak langsung pulang kadang mampir-mampir dulu ke rumah teman ibu dulu sekoalh saja
jalan kaki.
Jawab freya menyelonong “sekolahnya pasti dekat banget ya bu? Enak ya
tak pernah macet?” seru freya.
Ya memang benar kalau sekolah di desa itu banyak guyup rukunnya. Sebab
yang sekoalah juga anak-anak desa sekitar berangkat sekolah pun tak perlu repot
harus yang begini-begitu persiapanya.
Saat itu memang ibunya tak banyak bicara, dan singkat.
Freya terus mengeluh, padahal perjalanan yang di tempuh sudah
hampir sampai stasiun tujuan untuk turun.
Akhirnya freya kirim messeg ke agnes tanya
“nes siapa yang jemput aku sekeluarga? “ send
Ting ....Bunyi hp agnes,
“ini yang jemput ada aku sama abah” send.
Akhirnya sampai juga di stasiun tujuan, sambil menarik badan yang
rasanya sudah capek duduk 14 jam perjalanan yang begitu banyak pertanyaan jika
sudah ada di kampung halaman ibu nanti .
akankah semua sudah berubah ya? dalam tanda tanya freya.
Bersambung.......
Perjalanan 14 jam. Waaah. Kebayang suntuknya kalau Ndak ad aktifitas lain.
BalasHapus14 jam dari kereta tuh memang butuh aktivitas yang mendukung, kalau dibawa tidur juga ga akan sampai 14 jam tidurnya
BalasHapusInget pas masa2 mudik saat kuliah. Remek di jalan. Naik kereta 12 jam kalau lancar. Seringnya gak lancar :)
BalasHapus