PROSES, BAGAIMANAPUN HARUS DI NIKMATI.


Lahir dari kehidupan medioker jika di lihat dalam diri ini memang tak memiliki passioen atau memang diri ini kurang mengeksplor diri. Sebab semua berasal dari diri sendiri dan akan kembali lagi kepada diri sendiri. Memiliki mimpi setiap orang pasti memiliki mimpi tapi bagaimanapun wujudnya tergantung yang menjalankan.

Cita-cita tinggi yang ingin tercapai tapai memang semua kembali bagaimana prosesmu untuk menuju, tak lekang proses itu usaha dan do’a mu telah seberapa besar kau tunjukkan kepada penciptamu? Atau malah kau hanya butuh saat kau terpuruk dan jatuh. Padahal pencipta lagi merindukanmu, benar saja sebagai manusia selalu di rundung kegalauan tentang perjalanan mengeluh tapi tak ingin mendekat ke pencipta.

Belajar dari kecil, tinggal di lingkungan yang notabenya bukan lingkungan yang bukan notabenya orang pendidikan tetapi bekerja keras untuk mengais rejeki, itu adalah hal yang sangat berlawanan terhadap diri ini yang berkeinginan melanjutkan studi walaupun kadang berpikiran untuk apa setudi terus menrus hasilnya pekerjaan ku tetap seperti ini.

Lambat laun terus berjalan mengarungi semua proses dari bersekolah dari bangku sekolah dasar yang masih memiliki banyak teman dan samapai akhirnya lulus dari sekolah dasar dan di haruskan sekolah yang berlabel sekolah islam, mulai tidak memiliki teman sebab notabe lingkungan umum yang memandang sekolah yang berbau islam menjadikan hal berat menambah beban pikiran anaknya.

Dengan demikian setalah menyelesaiakn studi di aliyah memang benar tidak memiliki teman di lingkungan sekolah pada saat itu fuul day hanya libur satu kali dalam satu minggu begitu juga biasanya selalu ke sekolah mengikuti kegiatan ekstra.

Semua berlanjut sampai di jenjang bangku kuliah yang sejatinya tidak di perbolehkan keluar dari kota akhirnya memberanikan diri bersikukuh tetap ingin bisa kuliah di sekolah keinginan. Benar saja pada saat itu bisa menjadi mahasiswa rantau yang jarang pulang sebab di lungkunganpun tak memiliki teman, empat tahun sudah berlalu akhirnya memutuskan untuk memenuhi perintah orang tua mengikuti kata orang tua setelah studi strata satu selesai harus ulang ke kampung halaman. Dalam benak adalah berkecimpung tanda tanya stelah ini harus apa dan bagaimana?

Pada saat itu akhirnya orang tua bersikeras umtuk diri ini bisa melanjutkan sekolah lagi. Pulang ke desa di lingkungan tak memiliki teman pada akhirnya pertanyaan-demi pertanyaan dalam benak terjawab satu demi satu bisa melepas itu. Mulai mencari relasi walupun tak mudah tetapi di saat butuh ternyata semua akan di beri jawaban.

Benar saja, jawaban atas do’a yang saat masih di perantauan yang dalam benak selalu berpikir di desa tidak punya teman saat pulang siapa teman diri ini? Tapi semua itu terjawab saat dalam keadaan pulang kembali ke desa.

Tidak ada yang menyangka, semua tak terduga 3 tahun setelah pulang dari merantau akhirnya juga memiliki banyak relasi untuk terus maju, menitih cita-cita sedikit demi sedikit memiliki banyak teman yang se frekuensi.

Lingkungan ? pertanyaan sampai saat ini adalah bisakah saya menjadi bagian yang bisa mengembangkan. Tapi memang semua butuh proses setidaknya sampai detik ini bisa dekat dengan orang-orang di lingkungan bissa bertukar pendapat yang harus di luruskan sesuai ke ilmuan.

Jalan yang di berikannya memang tak pernah salah, semua ada jalan yang panjang yang harus di tempuh tak hanya dengan melangkah satu maupun dua sudah sampai tapi berpuluh butuh berpeluh, yang tertakar tak akan tertukar.

Semua jalan memang harus bisa di lalui sebab setiap masa ada hakikat hikmah yang bisa di petik untuk menjadi pelajaran untuk kedepan, maksud dari cerita ku adalah mengingat semua proses yang di lalui semua keluh kesah di setiap masa untuk berproses, pasti dalam setiap proses tak mungkin tidak ada yang menilai tak ada omongan yang mencibir tetapi bagaimanapun dirimu tetap dirimu yang menggerakkan ya tetap kembali kepada diri sendiri.

Tentang personal branding? Ya benar saja sebagai manusia biasa pasti ingin terlihat atau biasa di sebut pencitraan atau menggambarkan diri kita sendiri juga sebab ini juga hal yang lumrah bukan? Sebab setiap gerak gerik kita pasti selalu juga ada yang iri, entah itu iri tentang usaha kita ataupun tantang pencapain kita. Tetapi untuk kebaikan juga ada keharusan bukan? Mengenalkan hal baik ke orang lain? Jalan dakwah semua orang berbeda-beda dan kita punya caranya sendiri.

Dengan berkembang pesatnya ke ilmuan untuk berkembang tidak selalu mendatangi satu kesatu orang tetapi kita harus bisa mengoptimalisasikan media sosial untuk hal-hal baik sebab dalam media sosial jangan di anggap isinya hal-hal positif. Jadi , dengan berkembangnya alat atau media yang saat ini lagi buming mengapa tidak? Kita bisa saling berinteraksi dengan menggunakan media sosil memberikan hal-hal yang baik lewat media sosial. Jadi bagaimanapun semua memang kembali kepada diri sendiri. Semangat terus menggencarka kebaikan lewat media sosial yang telah di ciptakan. Terus ikuti proses, harus bisa melawan arus yang menggoyahkan, sebagai jiwa muda yang mengenal media sosial harus peduli dengan apa yang terjadi di dunia tersebut, saling berpartisipasi menggemakan kabaikan.


Komentar

Postingan Populer